Salah Rasa


SALAH RASA

            Tak ku ingat lagi kapan saat pertama kali aku melihat senyum menawan itu. Yang terkenang hingga saat ini ialah, saat tertawa lepas bersama, bermain selodoran di depan mosolla yang baru di bangun itu. Sesekali senyumanya berubah menjadi senyuman manja, saat berusaha mengecoh kewaspadaanku menjaga sepetak garis yang tak seorangpun kubiarkan melewatinya. Namun aku kaku di hadapannya, tanpa bersalah kubiarkan dia melewatiku.
            “Horeee..! Horeeee!” Teriaknya kegirangan
.
            Aku hanya tersenyum, dan tak memperduli pekikan-pekikan keras rekan se-timku, karna membiarkan dia lolos begitu saja. Senang rasanya bisa melihat dia bahagia.

***
            Sekolah Dasar berlalu, begitu juga dengan senyum selodoran tahun lalu itu, ia hilang bagai ditelan bumi, tak pernah dapat kulihat lagi. Merasa tak pantas jika ku harus merindu. Tahu apa aku tentang merindukan orang lain, saat tangis masih menggelegar merengek meminta jajan pada Ibu. Ini salah.

***
            Aku mulai tumbuh, mulai terbiasa tanpa ingatan senyuman itu. Perempuan silih berganti mengisi hari tiada arti, terkadang perempuan-perempuan itu menangis berharap tetap ku pegang dan kupeluk erat jiwanya, namun aku tak bisa, semua hampa.
            Studyku berlanjut di Kota Medan, aku masuk Perguruan Tinggi Negeri sebagai calon Ahlimadya Teknik Elektronika. Kebetulan jadwal kuliah lagi kosong hari ini, kusempatkan pergi ke pasar. Ada yang aneh kuliat dari selah-selah sesaknya penumpang angkutan umum di depan sana, perempuan berjilbab hitam, berbaju batik, seperti tak asing bagiku wajahnya.
            “Ah! Itu si Fitri,” batinku, ya! Fitri gadis selodoran yang pernah ku rindu dulu. Ingin melompat saja rasanya dari angkutan umum ini, tapi angkutannya melaju begitu kencang. Kuurungkan niatku, mungkin lain kali bisa ketemu.
            “Toh dia sudah disini.” Batinku lagi.


            Tak ingin buang-buang waktu, ku cari akun Facebook miliknya, dan ku kirimkan pesan singkat.
            Hey, Fit kuliah dimana?”
            Lama rasanya menunggu balasan pesan singkatku darinya, lebih 24 jam berlalu.
            “Walaikumsalam, dwik ya? Fitry kuliah di USU, dwik dimana ?” Balasnya pesanku.
            “oouh, di USU, dwy di Polmed Fit, eeh, gmana kabatnya?” kuketik pesan balasan perlahan, karena tangan mulai salah tingkah gemetar.
            “Alhamdulillah baik, Dwik gmna ?”
            “Baik juga kok, hehehe, oya kapan-kapan kita ketemu boleh?”
            “Boleh boleh, ntar kalo ftri ada waktu ftri kbari yaaaa….”
            “Okay deh Fit ;)”
           
***
            Senang rasanya, bisa ngobrol dan saling cerita, dia juga selalu menyemangatin aku untuk selalu berbuat baik.
            Sore ini kami janjian buat ketemu ditaman USU jam 4 sore, sepeda fixieku sudah ku persiapkan dari kemarin, agar tampak bersih.
            Kami bercerita, dari tentang kuliah, kehidupan barunya yang jauh dari orang tua, sampai masa-masa kecil kami dulu. Hingga tak terasa waktu begitu cepat belalu, hari sudah mulai gelap, dia mengajak pulang.
            “Pulang yook, udah sore, udah mau magrib.”
            “Yaudah, ayok ku antar!”
            “Ngapai, nggak usah, Fitri jalan aja, dekat kok, kek mana dwik bawa sepeda gtu”
            “yaudah, Fitri naik sepeda, dwy lari-lari kecil dibelakang”
            “aaah, jangan lah, yaudah Fitri pulang sendiri aja”
            “yaudah ayoook, dwy tuntun aja sepedanya, nggak boleh anak cewek pulang magrib-magrib sendirian,” tutupku sambil berdirikan sepeda. “Ayoook!”

***
            Kami tetap berkomunikasi meski hanya lewat pesan singkat, terkadang aku menanyakan hal-hal yang tidak terlalu penting, “Gimana kabar negaramu” misalnya, niatnya hanya ingin tetap komunikasian dengannya, atau aku pura-pura kehabisan uang lalu meminjam uangnya hanya untuk alasan supaya bisa ketemu. Terkadang dia yang memulai obrolan pesan singkat lebih dulu, menyakan kuliahku, atau sekedar mengirim foto eskrim ketika matahari terik.
            Semakin lama aku semakin dalam, hingga muncul ide untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan bersama dia. Meskipun sudah ku sisip-sisipkan ungkapan itu di tengah guyonan kami. Belum merasa puas jika belum mendengar jawaban yang rill dari dirinya.
            “Pernah nggak Fitri suka sama laki-laki gtu ?” Tanyaku
            “Pernah sih dulu waktu masih kecil, cinta-cinta monyt gtu lah” Balasnya.
            “Siapa ?”
            “Ada deh, yang pasti bukan dwik :p,”
            “Isssh,, jadi siapanya ?”
            “Aku tu orgnya payah buat suka sama lain, apa lagi sampe cinta2 gtu, maaf yaa wiie, tapi dia juga udah berubah sekarang nggak kyak dulu lgi,”
            “dulu gimna emang nya Fit?”
            “Ya gtu lah, sekarang udah merokok dia, udah berubahlah”
            “ouuh gtu pula, iyaa deh.” Tutupku.
            Ku urungkan niatku, untuk secara membabi buta mengungkapkan isi hati ini. Namun kata-katanya membuat ku sedikit besar hati, dan percaya kalau apa yang aku rasa sama seperti yang dia rasa, karena dwy kecil dengan dwy dewasa memang sudah berubah, atau memang benar bukan aku orang yang dia maksud. Atau mungkin dia tak ingin pacaran, aku kenal dia, mungkin itu alasan yang lebih realistis.
***
Disetiap obrolan pasti aku sisip-sisipkan ungkapan-ungkapan tentang perasaanku, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat dia berkata tentang perasaannya. Hingga sautu ketika dia mengirim pesan seperti ini.


“Tak banyak syarat yang kupinta
Untuk jadi suamiku kelak, aku Cuma pinta syarat satu,
Dia lah lelaki yang setiap subuh, sholat berjamaah di Masjid,
Bukan orang yang tau nya cuma ngode, dan tidak ada perbuatan untuk berubah,
Dan aku sudah dapati orang itu,”

Kata terakhir itu yang membuat aku rapuh, lemas, rubuh. Apa tak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi pendosa sepertiku?. Aku telah Salah Rasa. Aku layaknya Rahwana, merasa tidak pantas, tetapi tetap berharap belas kasih cinta dari Dewi Sinta yang cantik, lembut dan baik budinya.


Medan, 18 Mei 2015

Previous
Next Post »
Thanks for your comment