Sintaku "Tujuh"

Sintaku “Tujuh”


Sintaku,
Diakhir suratku yang terakhir ku sampaikan penyesalanku karna aku ingin berhenti mengirimu surat. Sungguh aku minta maaf tentang itu, bukankah ada kalanya seseorang itu harus berhenti sejenak untuk melangkah lebih jauh? Itu yang kulakukan Sintaku, tapi aku salah menyampaikannya kepadamu.
Aku harap kau dapat mengerti keadaanku waktu itu, saat awan dan ombak membuka semua tentangmu sungguh aku rapuh, aku tak berdaya Sintaku, tapi percayalah keadaan itu tak begitu lama ku lalui. Beberapa saat kemudian aku duduk kembali dimeja tulisku untuk menulis surat-suratku kepadamu untuk tidak pernah kau balas.

Kekasih,
Bukankah berharap adalah doa yang paling egois? Bukankah ketika aku berharap kepadamu aku sedang memaksakan kehendakmu? Itu sebabnya aku sudah lama berhenti berharap kepadamu Sintaku. Aku tak mau menjadi orang yang egois yang memaksa kau melakukan harapanku. Bukannya kau susah untuk dipaksa.

Aku teringan waktu itu, saat teman-temanmu berencana untuk menurunkan rektor kampusmu hanya karena salah berbicara saat diwawancarai media.  Kau dengan tegas menyampaikan pandanganmu yang sangat berbeda dengan teman-temanmu, sungguh keberanian yang harus aku acungi dua jempol. Tapi sayang Sintaku, keberanianmu tak menghasilkan apa-apa teman-temanmu tetap ngotot dengan pandangannya. Tapi aku sudah biasa dengan orang-orang seperti itu Sintaku, jadi aku tak terkejut saat kau menceritakannya kepadaku. La wong pergaulanku aja sudah sampe ke golongan manusia bawah tanah kok, hehehe.

Sintaku,
Aku berfikir di Negerimu sana kau sangat sibuk sekali.
Oya dengar-dengar sudah kau rubah penampilanmu, ah, makin cantik pasti kau dengan gaya dandanan barumu Sintaku. Aku sungguh rindu, kapan kita akan bertemu lagi? Aku tak peduli meski pertemuan kita tak dulu di jadwalkan, seperti di mini bus itu, aku juga tak peduli jika kau tak berbicara kepadaku, aku sudah belajar tentang mengerti hatimu.

Dulu Sintaku, saat kau bisikan “senja bersamaku” di telinga sebelah kananku aku berfikir kau selalu dibawah senja, dan  bermandi megah jingga. Aku baru sadar, ternyata aku salah tentang itu, ternyata yang kau maksud adalah ketika aku bersama senja ketika itu pula aku bersamamu, bukankah begitu? Maaf kalo aku salah menafsirkan bisikanmu itu. Tafsiranku memang sering berbeda dengan kebanyakan orang.

Sintaku,
Maaf jika dalam suratku ini kau menunggu-nunggu cerita tentang Lek Tho, aku beritahu aku sedang hilang mood untuk cerita tentang Lek Tho. Kau pasti tahu alasannya Sintaku. Aku juga tidak akan menceritakan tentang temuan-temuanku saat mencari balasan surat-surat darimu. Senja sedang tak bersahabat denganku, awan juga begitu. Mereka diam-diam mengomel tentangku. Iya, mereka asik mengomel tentang aku yang terus membaca balasan surat darimu, padahal kau juga tak membalasnya. Mereka membodoh-bodohkan komat-kamit mulutku, “tak ada surat kok dibaca,” setiap senja melontarkan kalimat itu awan pasti ketawa cekikikan mendengar ocehan remeh itu.

Aku gak bisa melawan Sintaku, sama saat dulu waktu kau ku bonceng lalu memintaku untuk menurunkanmu ditengah jalan, aku tak bisa melawan karna itu mau-mu. Saat kau ku tinggal kau malah marah-marah padaku, aku bisa apa? Aku hanya menuruti kemauanmu dulu.

Ah,
Sudahlah lupakan saja tentang itu, aku tahu kau hanya sedang ingin diperhatikan waktu itu. Aku tahu tapi aku pura-pura tidak tahu saja, makanya saat kau marah-marah aku nikmati saja ocehanmu. Toh, aku juga gak bisa ngelawan aku tahu benar isi kepalamu. Hehehe.

Senjaku,
Kau harus tau, aku sedang menjalankan bisnis baruku.
Oh, sudah dulu ya Sintaku ada pelanggan yang memangilku aku harus segera pergi.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment